JAYAPURA – Program Studi Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih (Uncen) menggelar Pelatihan Pembelajaran Seni Rupa dan Keterampilan bagi para mahasiswanya. Menariknya, pelatihan kali ini fokus pada isu lingkungan dan ekonomi kreatif dengan menyulap bahan-bahan bekas serta limbah alam sekitar menjadi produk seni yang bernilai ekonomis.
Pelatihan ini menghadirkan dua narasumber yang mengupas tuntas cara mengubah pandangan kita terhadap “sampah” menjadi sebuah peluang usaha berbasis kearifan lokal.
Sesi pertama dibawakan oleh Amurwani Putri, S.Sos., M.Si., seorang peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Membawa materi unik berjudul “Sampah Alam Jangan Dibuang, Bikin Jadi Uang,” Amurwani mengajak mahasiswa mengubah cara pandang terhadap material sisa di alam.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bagaimana ranting, daun kering, kulit kayu, hingga sisa bahan alam yang kerap dianggap mengotori lingkungan sebenarnya menyimpan potensi estetika yang tinggi jika disentuh dengan ilmu seni rupa.
“Dari kacamata antropologi dan budaya berkelanjutan, masyarakat adat Papua punya hubungan erat dengan alam. Memanfaatkan limbah alam menjadi kerajinan adalah bentuk nyata dari menjaga ekologi sekaligus menghidupkan ekonomi kreatif secara berkelanjutan,” ujar Amurwani.
Senada dengan materi pertama, **Ibu Amelia Korwa** dari UMKM Kota Jayapura sekaligus Lembaga Pemberdayaan Pengusaha Papua Cerah, memperdalam sisi praktis pelatihan. Amelia memandu para mahasiswa untuk langsung memanfaatkan barang-barang bekas yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar rumah dan kampus.
Ia membagikan strategi dan teknik dasar mengubah benda-benda tak terpakai—seperti botol plastik, kain perca, hingga kemasan bekas—menjadi barang kerajinan yang fungsional dan diminati pasar modern. Amelia menekankan bahwa modal utama dari usaha kreatif ini bukanlah uang yang besar, melainkan kejelian melihat potensi barang di sekitar kita.
Pelatihan ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori sosial-budaya di dalam kelas, tetapi juga memiliki kepekaan lingkungan dan keterampilan taktis.
Sebagai calon antropolog yang nantinya akan terjun langsung ke tengah masyarakat, keterampilan mengolah limbah alam dan barang bekas ini diharapkan bisa menjadi modal utama bagi mahasiswa untuk menginisiasi program pemberdayaan komunitas lokal di Papua.